Strategi Dakwah Yang Dilakukan Nabi Muhammad SAW di Madinah


Substansi dakwah Nabi Muhammad saw, juga dapat dilihat melalui khotbah Jum'at pertamanya. Sebagai proklamasi berdirinya negara Islam. Nabi Muhamma saw. juga telah menetapkan politik negara yaitu berdasarkan atas :


  1. Al-Adatul Insyaniyyah (perikemanusiaan)
  2. Asy-Syura (demokrasi)
  3. Al-Wahdatul Islamiyah (persatuan Islam)
  4. Al-Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam)

Adapun strategi dakwah yang dilakukan oleh Nabi Muhammad SAW. pada periode Madinah adalah sebagai berikut ini.

Strategi Dakwah Yang Dilakukan Nabi Muhammad SAW di Madinah

Membangun Masjid

Masjid yaitu merupakan institusi dakwah pertama yang dibangun Nabi Muhammad saw. setiba di Madinah. Masjid juga digunakan sebagai sarana untuk dapat mewujudkan rasa persaudaraan umat. Di masjid kaum muslimin juga melakukan ibadah kepada Allah.

Masjid juga menjadi sarana proses belajar mengajar, mengadili perkara-perkara yang muncul, tempat bermusyawarah dan juga merundingkan sebuah masalah-masalah yang mereka hadapi.
Baca Juga : Faktor Penyebab Hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah ke Madinah

Membina Persaudaraan antara Kaum Ansar dan Kaum Muhajirin

Untuk memperkukuh masyarakat dan juga negara Madinah, Nabi Muhammad saw.mempersaudarakan kaum Muhajirin atau penduduk mekah yang hijrah ke Madinah dan juga Ansar atau penduduk Madinah yang sudah masuk Islam. Jalinan itu juga diasaskan kepada kesatuan cinta kepada Allah dan juga pegangan tauhid yang sama.

Rasulullah saw. juga mempersaudarakan Abu Bakar yaitu dengan Kharijah bin Zaid, Jafar Abi Talib yaitu dengan Mu'az bin Jabal, Umar bin Khattab dengan Itbah bin Malik dan juga Ali bin Abi Talib yang dipilih untuk dapat menjadi saudara beliau sendiri. Selanjutnya, pada setiap kaum Muhajin dipersaudarakan  dengan kaum Ansar dan juga persaudaraan itu juga dianggap seperti saudara kandung sendiri.
Baca Juga : Beberapa Hikmah Beriman Kepada Malaikat Allah SWT

Pembentukan Piagam Madinah

Setelah kaum Muhajirin menetap di Madinah, Nabi Muhammad saw. juga mulai mengatur strategi untuk dapat membentuk masyarakat Islam uang terbebas dari ancaman dan juga tekanan (intimidasi). Pertalian hubungan kekeluargaan yaitu antara penduduk Madinah atau kaum Ansar dan juga kaum Muhajirin yang dipererat dengan mengadakan sebuah perjanjian untuk dapat saling membantu antara kaum muslim dengan nonmuslim. Perjanjian ini kemudian dikenal dengan sebutan Piagam Madinah.
Baca Juga : Iman Kepada Malaikat - Pengertian, Hukum, Penciptaan, Perbedaan, Jumlah Malaikat

Beberapa Kandungan dalam Piagam Madinah

  1. Kaum Yahudi hidup damai bersama-sama dengan kaum Muslimin.
  2. Kedua belah pihak bebas memeluk dan juga menjalankan agamanya masing-masing.
  3. Kaum muslimin dan juga kaum Yahudi juga wajib tolong-menolong dalam melawan siapa saja yang memerangi mereka.
  4. Orang-orang Yahudi memikul tanggung jawab belanja mereka sendiri dan juga sebaliknya kaum muslimin juga memikul belanja mereka sendiri.
  5. Kaum Yahudi dan juga kaum muslimin juga wajib saling menasihati dan juga tolong-menolong dalam mengerjakan kebajikan dan juga keutamaan.
  6. Kota Madinah adalah sebuah kota suci yang wajib dijaga dan juga dihormati oleh mereka yang terikat dengan sebuah perjanjian itu.
  7. Kalau terjadi sebuah perselisihan di antara kaum Yahudi dan juga kaum muslimin yang dikhawatirkan akan mengakibatkan hal-hal yang tidak diinginkan, urusan itu hendaklah diserahkan kepada Allah swt. dan Rasul-Nya.
  8. Siapa saja yang tinggal di dalam ataupun di luar Kota Madinah juga wajib dilindungi keamanan dirinya kecuali orang zalim dan juga bersalah sebab Allah stw. menjadi pelindung bagi orang-orang yang baik dan juga berbakti.

Pembentukan Pertahanan dan Keamanan

Negara Islam Madinah yang dikepalai oleh Nabi Muhammad saw. untuk dapat membuat pertahanan negara yang kuat dan juga dapat mempertahankan stabilitas negara dari serangan musuh yang diperlukan adanya kekuatan militer yang tangguh. Nabi sebagai kepala negara juga harus mengatur siasat dan juga mempersiapkan kekuatan militer negara Madinah.

Beliau mempersiapkan juga ekspedisi-ekspedisi ke luar kota. Itu semua dilakukan untuk berjaga-jaga terhadap serangan musuh yang mungkin datang dengan tiba-tiba. Sebagai contoh adalah sebuah pasukan yang dipimpin oleh Hamzah bin Abdul Muttalib, Pasukan Ubaiddah bin Haris, dan juga pasukan Sa'ad bin Abi Waqqas.
Baca Juga : 10 Nama-Nama Malaikat Pilihan Allah Beserta Tugasnya

Hubungan Dengan Luar Madinah

Pada masa awal setelah diangkat sebagai utusan Allah, Nabi Muhammad saw. membangun sebuah komunitas dengan para pemimpin suku dan juga pemimpin negara lain. Beliau juga mengirim utusan yang membawa surat ajakan untuk masuk Islam. Korespondensi melalui surat itu tujukan kepada Heraclius atau kaisar Romawi, Muqauqis atau Gubernur Romawi di Mesir, dan juga Syahinsyah atau kaisar Persia.

Kemudian surat dakwah Rasulullah saw, juga dikirimkan pula kepada an-Najasyi atau raja Ethiopia, al-Munzir bin Sawi atau raja Bahrain, hudzah bin Ali atau raja Yamamah dan juga al-Haris atau Gubernur romawi di Syam.

Meskipun surat-surat itu tidak semuanya diterima dengan baik, akan tetapi pengaruhnya juga sangat besar kepada rakyat dan juga negara-negara yang bersangkutan.

Di antara penguasa-penguasa tersebut yang menerima seruan dakwah Rasulullah saw. adalah al-Minzir bin Sawi penguasan Bahrain yang menyatakan untuk masuk Islam dan juga mengajak para pembesar negara dan juga rakyatnya untuk dapat masuk Islam.